oleh

Angin Kencang di Kabupaten Kepulauan Talaud Mengakibatkan 20 Unit Rumah Alami Kerusakan

Angin kencang merusak sejumlah rumah warga di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Jumat (17/9/2021). BNPB melaporkan tak ada korban jiwa dan luka-luka akibat peristiwa ini.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, fenomena cuaca ekstrem yang terjadi bersamaan dengan hujan lebat pada sore hari, pukul 14.20 waktu setempat, tidak mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.

“Sebanyak 20 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga sedang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Talaud mendata rumah rusak ringan sebanyak 19 unit dan satu lainnya rusak sedang,” kata Abdul dalam keterangan pers diterima Beritasatu.com, Sabtu (18/9/2021).

Baca Juga  Pelatih Timnas Swiss Persiapan Menjelang Laga 16 Besar Euro 2020

Ia menyebutkan, kebanyakan rumah rusak terjadi pada bagian atap karena kuatnya angin kencang. Namun, rumah lainnya rusak akibat tertimpa pohon tumbang. Wilayah yang terdampak angin kencang ini berada di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Melonguane, Lirung, dan Beo Selatan.

Pascakejadian, para warga yang dibantu petugas BPBD setempat bergotong royong untuk membersihkan material bangunan yang terempas angin. Petugas BPBD juga berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan pendataan kerusakan di lapangan.

Baca Juga  Kembangkan Potensi Anak Negeri, IBIK Bogor Bertranformasi

Abdul menyebutkan, sepanjang kurun lima tahun, 2015-2020, angin kencang tercatat hanya terjadi sekali, tepatnya pada 20 Oktober 2020 lalu. Saat itu, angin kencang mengakibatkan delapan unit rumah warga rusak. Wilayah terdampak berlokasi di Kecamatan Essang Selatan.

Untuk itu, BNPB selalu mengimbau kepada pemerintah daerah, khususnya BPBD, terhadap potensi bahaya hidrometeorologi, seperti angin kencang maupun angin puting beliung.

“Kondisi ini dapat terjadi atau menyertai saat hujan berlangsung. Selain itu, fenomena cuaca ekstrem tersebut biasa terjadi saat pergantian musim dari musim kemarau ke hujan dan sebaliknya,” ucapnya.

Baca Juga  Video Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Menghindari dari bahaya angin kencang, Abdul mengimbau masyarakat untuk berlindung di dalam bangunan yang kokoh dan jangan berada di bawah pohon maupun papan baliho.

Selain itu, masyarakat dapat bergotong royong untuk memotong ranting-ranting pohon yang ada di sekitar guna mengantisipasi tumbangnya pohon akibat angin kencang maupun beban air saat hujan turun. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed