oleh

BNPB Survei Udara Di Lokasi Terdampak Siklon Seroja

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memulai langkah susur sungai dan survei udara, guna melihat kondisi lokasi warga terdampak bencana Siklon Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan langkah prokatif awal susur sungai tersebut guna melihat material yang dapat menghambat aliran air di pemukiman warga, yang menyebabkan banjir bandang.

“Manakala pada saat kegiatan susur sungai ini dilakukan, dan menemukan adanya material yang menghambat di hulu, untuk dilakukan langkah-langkah berikutnya,” ujar Doni dalam konferensi pers virtual yang dipantau dari Jakarta, Sabtu, (10/4).

Doni mengatakan kegiatan susur sungai akan mengajak para profesional seperti kalangan pecinta alam, Basarnas, serta TNI/Polri dan unsur masyarakat lainnya.

Baca Juga  KLB PSSI Jatim Siap Digelar, Ahmad Riyadh Berpeluang tinggi Terpilih kembali

Kemudian untuk di Pulau Alor, Lembata dan Adonara, BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) akan menggunakan helikopter untuk survei udara di daerah-daerah tersebut.

Nantinya, hasil pengamatan tersebut akan menjadi dasar kebijakan untuk menentukan relokasi perumahan warga terdampak bencana sesegera mungkin.

“Hal ini penting sekali agar pembangunan yang akan dilakukan pemerintah bisa betul-betul memberikan jaminan keamanan lebih baik pada masyarakat,” ujar Doni.

Untuk mempercepat proses relokasi warga, BNPB akan bekerja sama dengan dengan para tokoh di daerah serta budayawan untuk sosialisasi kepada warga.

Baca Juga  Buka Rakerda SMSI, Plt Gubernur Harap Media Bersinergi Dengan Pemerintah

Diharapkan proses relokasi berjalan lancar dan baik, sehingga dapat mempercepat pembangunan kembali atau build back better.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyebut korban terdampak Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak tinggal di daerah aliran sungai (DAS).

“Tidak sedikit muncul korban merupakan daerah yang berada di samping kaki bukit, yang merupakan daerah aliran sungai,” ujar Doni.

Doni memaparkan, NTT merupakan daerah yang sepanjang tahun relatif mendapatkan curah hujan yang minim. Namun ketika ada Siklon Tropis Seroja, maka hujan lebat dapat terjadi.

Baca Juga  Penerapan UU ITE : Ketua Umum SMSI Firdaus Dukung Kapolri Utamakan Langkah Damai

Terjangan siklon tersebut akhirnya berdampak pada kerusakan masif, yang ditimbulkan akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Pada kasus yang diamati di lima desa terdampak banjir debris diantaranya Desa Waematan, Amakaka, Tanjung Batu dan Waowala ketika curah hujan tinggi, hal tersebut kemungkinan menyebabkan penyumbatan aliran sungai. Akibatnya air menumpuk, dan membentuk bendungan secara alami.

“Ketika volume air besar semakin besar dan tidak sanggup lagi menahan bendungan air, maka menimbulkan banjir bandang,” ujar Doni.

Dia menambahkan kejadian tersebut ditemukan pula di Pulau Alor, Lembata dan Adonara. (*/cr9)

Sumber : Kupang.antaranews.com

News Feed